Fungsi dan Hukum Bertasawuf (2/2)

0
340

Seorang hamba jika ikhlas dan ridha dalam menjalankan tugas kehambaannya di hadapan Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan kepadanya dari arah manapun. Allah akan memuliakannya dengan anugerah ilmu yang tidak dia ketahui sebelumnya.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 282, “Dan bertakwalah kalian kepada Allah, niscaya Allah akan mengajari kalian.” Demikian yang dipaparkan Syaikh ath-Thahthawi dalam bukunya Hasyiyah ath-Thahthawi ‘ala maraqi al-Falah.

Sayangnya tidak setiap orang mampu mengetahui penyakit batinnya sendiri. Dia selalu merasa amal ibadah yang dilakukan telah sempurna, atau merasa batinnya sudah bersih. Padahal, kenyataannya amal ibadahnya sangat jauh dari sempurna dan batinnya masih digerogoti virus-virus yang menyesatkan. Dia memerlukan cara atau metode khusus untuk mengetahui dan mengobati dirinya dari penyakit tersebut. Untuk maksud itulah tasawuf dilahirkan.

Syaikh Ibnu Zakwan berkata, “Tasawuf adalah ilmu yang mengajarkan cara membersihkan diri dari segala kotoran ruhani.”

Ilmu tasawuf memfokuskan diri pada pengobatan penyakit-penyakit batin. Ia juga bertujuan untuk mengajarkan sifat-sifat mulia seperti taubat, takwa, istiqamah, jujur, ikhlas, zuhud, tawakal, ridha, berserah diri, cinta kasih, zikir, muraqabah dan lain-lain. Ia juga mengajarkan bagaimana menjauhi sifat-sifat tercela, seperti dendam, dengki, iri hati, suka dipuji, angkuh, pamer, marah, tamak, kikir, mengagung-agungkan harta, merendahkan orang miskin dan lain-lain. Dengan tasawuf orang itu dapat membebaskan hatinya dari keterikatan kepada selain Allah dan menghiasinya dengan dzikir kepada-Nya.

Meskipun batin dan jiwa adalah objek terpenting dari kajian tasawuf, tetapi ia tetap tidak mengesampingkan aspek lahir, aspek ibadah fisik dan harta. Tasawuf bukan sekadar wirid dan dzikir, seperti banyak yang disalahfahami orang. Tasawuf merupakan metode praktis dan sempurna yang dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang lurus, ideal dan sempurna, jauh dari sesat dan penyimpangan.

Tasawuf adalah ruh dan jantung Islam yang terus berdenyut. Agama Islam bukan sekedar amalan-amalan lahiriah dan formalistik. Ia juga menyimpan aspek-aspek ruhani yang merupakan kekuatan tersebunyi di balik amalan-amalan lahiriah dan formalistik tersebut.

Kemerosotan kaum Muslimin tidak lain disebabkan mereka telah jauh dari nilai-nilai ruhani agamanya. Mereka telah disibukkan oleh urusan-urusan materi/duniawi. Maka, para ulama dan para sufi pun mulai mengajak mereka untuk bergabung dan belajar bersama kelompok-kelompok dzikir. Hal itu tidak lain agar bisa menyelaraskan antara raga dan jiwa, agar bisa lebih dekat mengenal Allah (ma’rifatullāh), agar bisa memenuhi hati dengan cinta kasih, muraqabah dan dzikir kepada-Nya.

Penelitian dan perenungan panjang yang dilakukan Imam al-Ghazali terhadap ajaran-ajaran tasawuf membawanya pada kesimpulan, bahwa belajar dan menggeluti tasawuf bersama para sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab, tidak seorangpun dapat terbebas dari aib atau kesalahan kecuali para nabi. Kaum sufi adalah orang-orang yang teguh dan tekun membersihkan diri dari aib dan kesalahan, sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Nabi.

Diperlukan tekad yang bulat, kesabaran dan kesungguhan. Sebab meniti jalan tasawuf sangatlah sulit. Namun, jika itu bisa dilewati, maka kita bisa selamat dari murka Allah. (Tamat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here