Metode Inabah ala Ponpes Suryalaya Merehabilitasi Pecandu Narkoba

0
467
Suasana kegiatan salat Jumat para pecandu narkoba dan kelainan perilaku di Inabah 7 Pesantren Suralaya, Tasikmalaya, Jumat (25/03/2016).--Foto: Imam Husein/Jawa Pos

Dari total jutaan penyalahguna narkoba di Indonesia, menurut data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut, ternyata hanya ada sekitar 18.000 atau 0.47 persen yang sudah mendapat layanan rehabilitasi.

Penyebab rendahnya angka rehabilitasi ini, salah satu faktor adalah minimnya tempat untuk merehabilitasi ini. Namun, untung saja—sudah banyak bermunculan pesantren-persantren yang ternyata sukses merehabilitasi para pecandu Narkoba ini.

Salah satu yang paling terkenal adalah Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Dari situs resminya www.suryalaya.org, konsep rehabilitasi yang dipakai disebut inabah.

Menurut (alm) KH Shohibulwafa Tajul Arifinyang sering disebut Abah Anom– etimologi kata Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab anaba-yunibu yang berarti : mengembalikan. Jadi, inabah juga berarti pengembalian atau pemulihan. Maksud dari ini adalah proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah.

Penggunaan istilah ini juga lazim digunakan dalam Al-Qur’an, khusunya pada surat Luqman surat ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya.

Konsep perawatan korban penyalahgunaan narkoba ini adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat.

Dari sudut pandang ilmu pendekatan “tasauf” atau spiritual melalui wadah “Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah” yang dipimpin Abah Anom, maka orang yang sedang mabuk berarti jiwanya sebenarnya sedang tergoncang dan terganggu, Tidak jauh berbeda dengan orang gila sehingga diperlukan metode yang didasarkan pada Al-Qur’an, hadits dan ijtihad para ulama.

Dan secara teknis, metode ini yang mencakup :

1. Mandi.

Lemahnya kesadaran pecandu akibat narkoba bisa dipulihkan dengan mandi dan wudlu. Mandi dan wudlu ini berarti akan mensucikan tubuh dan jiwa sehingga siap untuk ‘kembali’ menghadap Allah Yang Maha Suci.

disamping itu, terdapat makna simbolik dari wudlu berupa mencuci muka, mensucikan bagian tubuh yang mengekspresikan pembersihanjiwa. Kemudianmencuci lengan yang berarti mensucikan perbuatan. Kegiatan membasuh kepala juga berarti sedang mensucikan otak yang mengendalikan seluruh kegiatan badan. Terakhir, saat membasuh kaki berarti mensucikan setiap langkah perbuatan dalam hidup.

2. Sholat.

Pecandu yang telah disucikan oleh prosesi mandi dan wudlu, kemudian akan diajarkan dan dipandu untuk melaksanakan sholat fardhu dan sunnah sesuai dengan metode inabah ini. Tuntunan pelaksanaan sholat fardhu dan sunnah pun disesuaikan dengan ajaran islam dan kurikulum ibadah yang telah dibuat dan disarikan oleh Abah Anom.

3. Talqin Dzikir.

Pecandu yang telah pulih kesadarannya, kemudian diajak berdzikir melalui talqîn dzikr. Talqin dzikir adalah pembelajaran dzikir pada qalbu. Dzikir tidak cukup diajarkan dengan mulut untuk ditirukan dengan mulut pula, melainkan harus dipancarkan dari qalbu untuk dihunjamkan ke dalam qalbu yang di talqin. Yang dapat melakukan talqin dzikir hanyalah orang-orang yang qalbunya sehat (bersih dari syirik) dan kuat (berisi cahaya ilahi).

4. Pembinaan.

Anak bina ditempatkan pada pondok inabah guna mengikuti program Inabah sepanjang 24 jam. Kurikulum pembinaan ditetapkan oleh Abah Anom mencakup mandi dan wudlu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya.

Dengan metodologi yang dikutip dari situs resmi Pesantren Suralaya ini, terbukti tingkat keberhasilannya sangat tinggi. Tidak heran pesantren yang beralamat di:

Desa Tanjungkerta – Kecamatan Pagerageung 46158, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat – Indonesia, Telp. (0265) 454830-455801 Fax. (0265) 455830 ini sangat terkenal.

Bukan hanya terkenal, namun pernah juga mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, serta penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia kepada KH.A Shohibulwafa Tajul Arifin atas keberhasilan metode Inabah tersebut serta jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja.

Walau pun akhirnya Abah Anom meninggal dunia tahun 2012, metoda Inabah yang ditemukannya tetap dipakai oleh penerus pesantrennya.

Selain Itu, ada juga beberapa Pesantren lainnya yang juga membuka program rehabilitasi pecandu narkoba, antara lain:

A. Pondok Pesantren Al Islamy, Pondok ini didirikan oleh mualaf, Anastasius Priharsoyo yang terletak di Pedukuhan Padaan Kulon, Desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo. Pondok pesantren ini sudah berhasil merehabilitasi ribuan pecandu narkotika sejak didirikan pada 1984 silam, pondok ini melakukan pendekatan religi untuk penyembuhan. Disamping itu juga memakai penanganan melalui pendekatan medis umum juga dilakukan.

B. Pesantren Rehabilitasi Mental Az-Zainy, Pondok Pesantren ini didirikan oleh KH Zain Baik yang akrab dipanggil Gus Zain. Menurut Gus Zain, ia termotivasi untuk pondok pesantren rehabilitas narkoba ini karena selama ini sudah terlalu banyak pesantren lain hanya mengkhususkan membina orang waras. Padahal pecandu narkoba juga mempunyai hak untuk sembuh dan mempunyai hak untuk mendapatkan ilmu ahlak dan umum.

Nah, dari beberapa yang disebutkan diatas—tentu masih banyak lagi pesantren lain yang mempunyai niat yang sama walau mungkin berbeda secara teknis konsep dan metode. Namun apa pun konsep dan metodenya. Semuanya sangat bermanfaat untuk memberikan alternatif rehabilitasi bagi korban yang berniat sembuh atau disembuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here